Hari ini, dibawah senja, akan dijawab pertanyaannya tempo hari.
Ya, aku mau menjadi satu-satunya orang yang berjalan bersamamu dengan payung birumu melintasi rintikan hujan.
Karena kamu adalah lelaki pertama yang menghampiriku kala aku tertegun menunggu hujan kemudian dengan tubuhmu yang menjulang, kau ajak aku berjalan menerjang hujan dengan payung birumu.
Karena kamu adalah seseorang yang bisa membuatku kembali suka akan hujan.
Karena bersamamu, selalu ada kenangan indah saat hujan turun.
Karena kamu, goresan pena ku kembali hidup.
Karena kamu, setiap rintikan hujan seakan membentuk melodi yang indah.
Dan karena kamu, aku tak akan ketakutan lagi jika hujan turun di sepanjang musim. Sebab, aku percaya, kamu akan selalu ada menemaniku menerjang hujan.
9/18/2017
Pertemuan Kedelapan
9/16/2017
Pertemuan Ketujuh
Malam ini, hujan turun dengan rintikannya yang pelan yang dapat memperindah suasana hati.
Hujan malam ini adalah hujan yang paling indah dimana di setiap rintiknya diiringi ucapan kamu yang membuatku terharu.
Kamu berkata, "Kamu tahu? Ada tujuh alasan aku menyukai hujan.
Alasan pertama, hujan di pertengahan Juni lalu yang mempertemukan kita untuk pertama kalinya.
Alasan kedua, pada rintikan hujan kedua, aku masih dapat bertemu kamu, berjalan beriringan dengan payung biruku.
Alasan ketiga, aku merindukan jika hujan tak turun tak datang, itu artinya aku tidak bisa melihat wajahmu, melihat senyum manismu.
Alasan keempat, setiap hujan turun, aku merasa tenang karena setiap rintikannya bisa membuat pikiranku hanya tertuju padamu.
Alasan kelima, setiap hujan turun, teringat saat kita berjalan bersama, menerjang hujan ataupun menunggu hujan bersama.
Alasan keenam, aku berharap hujan turun di sepanjang musim, agar aku bisa melihat wajahmu, senyum manismu, mendengar suaramu, menikmati puisi indahmu, dan berjalan bersamamu dengan payung biruku.
Alasan ketujuh, bagiku, kamu yang membuatku suka akan rintikan hujan, aroma hujan, dan suasana disaat hujan.
Dan apakah kamu mau menjadi satu-satunya orang yang berjalan bersamaku dengan payung biruku melintasi hujan?"
9/15/2017
Pertemuan Keenam
Senja kali ini, kita duduk berdua di taman.
Wajahmu tampak kelelahan.
Setelah pertemuan satu jam, aku memberikan selembar kertas untukmu yang isinya seperti ini :
Bagiku hujan seperti irama musik
Yang tiap tetes nya selalu bisa menenangkan hati.
Bagiku hujan seperti aromaterapi
Dengan aroma khasnya bisa menenangkan pikiran.
Bagiku hujan seperti kamera
Yang tiap kedatangannya selalu ada memori yang tersimpan.
Bagiku hujan itu sepi, hujan itu duka
Namun itu sebelum kamu datang dengan teduh payung birumu.
Tanpa hujan, pelangi tak akan tampak,
Tanpa hujan, embun tak akan tercipta,
Dan tanpa hujan aku tak akan bertemu kamu.
Lalu, kau tersenyum, wajahmu tampak riang kembali. Kau mengucapkan terimakasih dan berkata "Tunggu balasan puisi yang indah ini ya".
9/14/2017
Pertemuan Kelima
Kali ini, aku dan kamu duduk berhadapan menikmati sajian nasi goreng khas kaki lima.
Aku tertawa melihat wajahmu memerah karena kepedesan.
Kamu begitu antusias menceritakan bahwa nasi goreng disini adalah makanan favorit keluargamu.
Memang benar, rasa nasi goreng disini enak sekali, bumbunya pas, pedasnya pas, dan karena kamu ada disini, menemaniku membicarakan berbagai macam hal, bercanda hingga tertawa lepas.
Pertemuan kali ini tidak ada rintikan hujan yang mengiringi perjalanan pulang kita.
9/11/2017
Surat Rindu untuk Ibu
8/12/2017
Pertemuan Keempat
Rintikan hujan masih terdengar di awal Juli.
Saat itu, hujan masih mempertemukan kita.
Aku yang masih saja lupa untuk membawa payung.
Kau yang kali ini lupa membawa payung birumu.
Kita berdiri bersama beberapa orang yang sama-sama menunggu hujan reda.
Lalu, Kau melontarkan senyuman, entah itu pertanda apa.
Setelahnya Kau berkata "Aku suka hujan karena di setiap hujan aku selalu bisa bertemu kamu".
Aku tersenyum, tersenyum senang lebih tepatnya.
8/09/2017
Pertemuan Ketiga
Kali ini hujan tidak turun seperti biasanya.
Aku melihatmu dan teman-temanmu berdiskusi di taman kampus.
Ah, senang sekali melihat wajahmu tanpa takut kamu akan melihat wajahku yang bersemu merah.
Aku bebas memandangi kali ini.
Kamu mengenakan kemeja coklat polos, celana jeans coklat, serta dibalut sneakers coklat. Padu padan yang pas sekali.
Terimakasih untuk 'pertemuan' kali ini, meskipun tanpa hujan dan tanpa payung birumu.
8/08/2017
Pertemuan Kedua
Hujan turun lagi, Kau dan payung birumu kembali hadir.
Aku kembali terpana melihat sosoknya, tubuhmu yang menjulang, wajahmu yang menawan, senyummu begitu menghanyutkan.
Kali ini kau bertanya "Kau suka hujan?", dan Aku jawab "Aku tidak suka hujan,bagiku hujan hanya mengahdirkan kenangan lama tentangnya", namun jawaban itu hanya terucap dalam hati saja, yang terucap dari mulutku hanya "tidak".
Lalu Kau dengan tegasnya berkata "Aku akan membuatmu suka dengan hujan".
8/07/2017
Pertemuan Pertama
Sewaktu itu hujan turun di pertengahan Juni.
Saat pertama kali aku melihatmu dengan payung birumu menghampiriku yang tertegun menunggu hujan.
Lalu, aku dan kami melewati gemercik hujan dibawah payung kenangan itu, tak ada kata terucap dari bibir kita berdua.
Hujan tepat reda di persimpangan jalan, terimakasih atas tumpangan payungnya, dan kamu membalas dengan kalimat yang mengawali perjalanan ini "Sampai bertemu di hujan berikutnya".
Entah kenapa sejak saat itu, aku suka hujan.
9/27/2016
Rindu itu memang berat
Rindu itu memang berat apalagi rindu pada orang yang tidak sepantasnya kita rindukan. Ya benar, aku masih membahas tentangnya, masih berkutat tentang perasaanku yang belum juga habis untuknya. Aku sekarang tidak mengetahui kabarnya, tidak tahu dia sedang berada si kota mana, tidak tahu dia bahagia atau tidak. Selalu saja aku memikirkannya, dia mungkin sudah tak ingat lagi kepadaku, aku yang dulu selalu diperhatikannya, selalu menelponku, selalu ada gombalan di setiap percakapan kita, selalu berkata "aku kangen kamu", selalu menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun, selalu dan selalu ada untukku. Aku rindu kamu hingga air mata ini sudah tak sanggup menetes lagi. Aku rindu kamu hingga dada ini sesak. Aku rindu kamu tapi aku hanya bisa diam bersama kerinduan yang dalam ini.
Dari perempuan yang selalu merindukan kamu.
Untuk kamu, laki-laki yang tidak sepantasnya dirindukan.
5/15/2016
Selamat malam untuk kamu yang sudah milik perempuan lain.
Dari aku, perempuan yang masih ingin bertemu kamu.
Kamu dan Lembaran Baru (4)
Hari-hariku sekarang dipenuhi dengan kehadiranmu, ada kalanya kita bahagia, ada kalanya kita kecewa. Tak jarang aku kecewa karenamu, begitu...
-
TUGAS KIMIA F...
-
Pertama kali mendengar dari seorang Dosen kuliah. Ada rasa ngga percaya kalo minyak tanah bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Beli...