8/07/2017

Pertemuan Pertama

Sewaktu itu hujan turun di pertengahan Juni.
Saat pertama kali aku melihatmu dengan payung birumu menghampiriku yang tertegun menunggu hujan.
Lalu, aku dan kami melewati gemercik hujan dibawah payung kenangan itu, tak ada kata terucap dari bibir kita berdua.
Hujan tepat reda di persimpangan jalan, terimakasih atas tumpangan payungnya, dan kamu membalas dengan kalimat yang mengawali perjalanan ini "Sampai bertemu di hujan berikutnya".
Entah kenapa sejak saat itu, aku suka hujan.

9/27/2016

Rindu itu memang berat

Rindu itu memang berat apalagi rindu pada orang yang tidak sepantasnya kita rindukan. Ya benar, aku masih membahas tentangnya, masih berkutat tentang perasaanku yang belum juga habis untuknya. Aku sekarang tidak mengetahui kabarnya, tidak tahu dia sedang berada si kota mana, tidak tahu dia bahagia atau tidak. Selalu saja aku memikirkannya, dia mungkin sudah tak ingat lagi kepadaku, aku yang dulu selalu diperhatikannya, selalu menelponku, selalu ada gombalan di setiap percakapan kita, selalu berkata "aku kangen kamu", selalu menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun, selalu dan selalu ada untukku. Aku rindu kamu hingga air mata ini sudah tak sanggup menetes lagi. Aku rindu kamu hingga dada ini sesak. Aku rindu kamu tapi aku hanya bisa diam bersama kerinduan yang dalam ini.

Dari perempuan yang selalu merindukan kamu.
Untuk kamu, laki-laki yang tidak sepantasnya dirindukan.

5/15/2016

Selamat malam. Sudah beberapa bulan ini absen nulis di blog, aku merasa aku bukan seperti yang dulu yang bebas mengungkapkan cerita lewat tulisan. Akhir-akhir ini susah sekali mengeluarkan kata-kata yang ada dalam benakku. Mungkin karena aku terlalu sibuk, aku sudah lulus akhir tahun lalu dan sekarang sudah bekerja di perusahaan minuman kesehatan yang terletak di cicurug kabupaten sukabumi, yaitu di PT Djojonegoro C1000. Ada kabar buruk Kawan, aku masih belum bisa melupakan dia, iya dia yang dulu dari SMP selalu memperhatikanku. Aku bahkan tau dia sudah punya pacar lagi, tapi bodohnya aku masih belum bisa melupakan dia, dan apakah kalian tau? Semalem aku bahkan memimpikannya, berada di dekat dia, merasa hal tersebut nyata. Dia sekarang lagi apa ya. Aku ingin sekali memulai obrolan baru dengannya, terapi ketakutanku jauh lebih besar, aku takut diabaikan. Sudahlah, semoga kita bertemu dalam mimpi lagi ya, itu sudah cukup membuatku senang.

              Selamat malam untuk kamu yang sudah milik perempuan lain.
             Dari aku, perempuan yang masih ingin bertemu kamu.

9/12/2015

Malam Minggu Kesekian Tanpamu

Selamat malam. Aku tak tahu lagi ini malam minggu keberapa tanpa sapaan darimu, tanpa pesan singkatmu, tanpa telepon darimu, tanpa candaan serta gombalan kamu. Aku tak ingat malam minggu keberapa, namun aku masih ingat dan masih menyimpan rasa ini untukmu. Bagaiamana denganmu? . Ah tak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya. Memang kita tak pernah bertemu secara langsung di malam minggu karena jarak memisahkan kita. Tapi aku sangat senang malam minggu tiba, jadwal kamu menelponku. Menelpon dua jam denganmu terasa begitu cepat. Kata pertama yang selalu keluar dari mulutmu saat nelpon yaitu kata “Kangen kamu” lalu aku selalu menjawab “Aku juga kangen kamu”. Dan sampai saat ini aku masih kangen kamu hai kamu yang berada diluar kota sana.  Kamu selalu mencoba membuat lelucon  dengan kata-katamu, jika aku yang disebrang sini hanya tertawa sebentar, kamu selalu bilang “hehe nggak lucu ya?” lalu aku bilang “lucu, lucu kok”. Ya, memang terkadang candaanmu tidak lucu sih, tapi aku bilang saja lucu untuk menyenangkan hatimu. Toh ngga ada yang salah karena aku mencintaimu. Selain candaan, kamu selalu merayuku dengan kata-kata yang sederhana, tidak puitis, namun selalu bisa membuatku tersenyum malu. Untung saja kita tak bertatap muka, aku malu jika kamu melihat betapa meronanya pipiku saat kamu melayangkan rayuanmu. Beberapa malam minggu selalu kuhabiskan denganmu, hingga tiba akhirnya pada saat malam minggu itu kita berpisah. Alasannya karena jarak. Entah itu hal sepele atau bukan, tapi menurutku tidak ada hal yang sepele hingga suatu hubungan bisa berakhir.
Mungkin diluar kota sana malam minggu ini kamu sedang asyik menikmati jalanan kota yang ramai dikelilingi kerlipan lampu kota, pedagang yang berjejer, makan malam romantis, atau mungkin sedang berbicara mesra lewat telepon karena dengan pacar kamu yang sekarang juga kalian LDR. Aku memang perempuan yang bodoh, masih saja memikirkanmu yang telah membuat malam minggu-malam minggu ku sepi. Aku butuh kamu saat ini, aku butuh orang yang aku sayang bisa menyemangati sidang komprehensif ku. Aku ingin kamu mengucapkan selamat ketika aku selesai sidang. Aku ingin kamu datang di hari wisudaku. Aku ingin itu semua. Maaf aku terlalu lancang, menginginkan semua itu darimu.
Hanya dengan menulis, aku merasa kamu masih ada disampingku. Dengan menulis, aku bisa berbicara banyak denganmu. Dengan menulis, aku bisa memilikimu tanpa banyak larangan. Dengan menulis, aku masih bisa terus memandangmu, meluapkan rasa rinduku, menganggap seolah perpisahan ini tak pernah terjadi.
Aku memang bodoh, tolol, norak. Tapi aku beruntung karena pernah dicintai dengan sederhana olehmu, tanpa pernah bertemu saat malam minggu. Hanya via telepon, sapaan hangat, perhatian, dan kata-kata sederhana darimu yang bisa membuatku ingin memperlambat waktu di malam minggu.  
               
Dari perempuan yang masih mengingat malam minggu denganmu.

Untuk kamu yang sudah menjalani malam minggu dengan perempuan lain.

12/26/2014

Aku Hanya Takut Kamu Bohong
“Jarak ada untuk ditempuh bukan untuk dikeluh karena jauh”, terasa begitu mudah untuk dikatakan, namun direalisasikan begitu susah. Mengapa jarak selalu menjadi masalah bagiku. Bulan bulan awal tak masalah, menuju bulan kelima, jarak seakan menjadi tembok besar diantara kita. Aku merasa atau mungkin aku saja yang terlalu perasa, ya aku merasa kamu seperti tak peduli lagi terhadapku, terhadap hubungan ini. Biasanya, kamu yang selalu memulai percakapan di BBM , selalu menelponku. Tapi kini, harus aku yang terlebih dahulu mengirimkan PING! via BBM, dari cara kamu membalas pesan BBM pun terasa hambar bagiku, balas pesan hanya seperlunya, aku bertanya ‘kamu udah makan belum’ kamu hanya menjawab ‘belum, kamu udah makan’. Selalu seperti itu, aku bertanya, kamu jawab singkat dan bertanya balik hal yang sama.
Sebenarnya kamu ingin tahu apa yang aku takutkan? Aku takut kamu membohongiku lagi. Itu saja.  Jika itu benar terjadi, aku sudah cukup mengorbankan perasaanku yang terlalu besar terhadapmu, sampai aku rela menunggumu kurang lebih lima tahun lamanya, sampai aku rela menjadi orang diantara kamu dan dia, kurang berkorban apalagi perasaanku? Jika itu benar terjadi, biarkan perasaanku mencoba menjauh darimu.

                                                                                                Dari aku yang takut kamu bohongi lagi
                                                                                                Untuk kamu yang kurasa telah berubah



11/30/2014

Aku Rasa Kamu Telah Berubah

Maaf ya jika kalian bosan membaca ceritaku karena lagi lagi ceritaku menyangkut dirinya.
Malam ini, Minggu, 30 November 2014 pukul 18:39. Perasaanku sedang tak menentu. Aku merasa kamu berubah, 1 minggu ini kamu tak lagi menelponku hanya saja kita masih ‘bercakap’ lewat pesan singkat ataupun BBM itu pun seperti bukan kamu yang biasanya, tak ada tanda perhatian, memulai percakapan pun harus aku, membalasnya pun singkat saja, tak ada gombalan yang biasanya kamu lontarkan kepadaku hingga membuatku senyum-senyum sendiri. Aku merasa kamu berubah. Namun, aku tak tahu alasan itu semua. Ingin sekali aku bertanya langsung kepadamu, tetapi aku tak berani menanyakannya, aku takut kamu anggap aku terlalu overprotektif atau overdramatis atau apalah itu istilahnya. Hal seperti ini persis seperti pada saat bulan lalu saat kamu berbohong padaku (lihat di cerita sebelumnya). Apakah hal yang sama tersebut akan terjadi lagi?. Tolong kepada kamu, berkatalah jujur padaku, ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi, jika kamu memang sudah ‘bosan’ dengan cerita cinta kita maka katakanlah. Jangan biarkan perasaanku bak kapal yang dalam hantaman ombak yang terombang-ambing tidak jelas. Atau kemungkinan ini semua hanya aku saja yang terlalu sensitif akan perasaanku kepadamu, mungkin saja kamu disana sedang sibuk menjalankan serangkaian kegiatan yang kutahu sangat padat hingga tidak ada kesempatan untuk sekedar memperhatikanku. Mungkin saja.

Untukmu seseorang yang aku rasa telah berubah

Dari aku yang mungkin terlalu sensitif

10/28/2014

 Selasa malam, 28 Oktober 2014 pukul 20:09

Terimakasih...
Malam ini air mataku tumpah saat mengetahui suatu fakta. Aku ingin bertanya kepadamu, Kenapa kamu tega ‘memainkan’ perasaanku? Kamu bilang kamu sayang sama aku, kamu bilang kamu sudah tidak menjalin hubungan dengan seorang perempuan itu. Tapi apa?? Aku lihat di akun facebook mu sebuah tulisan status dia tentangmu, lebih tepatnya tentang kalian. Aku bodoh, kenapa aku langsung percaya kepadamu?? Mustahil kamu masih menyimpan rasa yang dulu pernah kau berikan hanya padaku. Aku hanya terlalu kepedean, terlalu yakin akan rasaku ini terhadapmu, tapi kenyataannya keyakinan perasaanku tak sebanding dengan perasaanmu.
Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas rasa sakit yang telah kauberikan ini. Aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku berusaha akan melupakan kamu, meskipun aku tak tahu kapan aku bisa melakukannya. Kamu berhak bahagia dengannya, bukan denganku yang terlalu rapuh saat menerima kenyataan ini. Terimakasih sudah mengijinkanku untuk ‘memiliki’ hatimu meskipun itu fana. Terimakasih sudah membuat hari-hariku diiringi senyum akhir-akhir ini. Terimakasih atas rayuan-rayuan kamu meskipun itu hanya terucap lewat mulutmu bukan dari hatimu. Terimakasih sudah membuat aku merasa menjadi perempuan yang paling bahagia. Terimakasih karena kamu berhasil menjadi inspirasi dalam khayalanku. Terimakasih atas harapan yang sempat kamu berikan kepadaku. Terimakasih atas obrolan dan candaan hangat yang kamu lontarkan lewat telepon. Terimakasih atas perhatian kamu. Sekali lagi terimakasih dan semoga kamu benar-benar menemukan kebahagiaanmu.

    Dari aku, perempuan yang terlalu berharap lebih akan perasaanmu.
    Untuk kamu, lelaki yang membuat air mataku tumpah malam ini.

10/02/2014

Tentang Aku dan Kamu

Apa mungkin ya rasa sayang dapat bertahan selama lebih dari 5 tahun tapi tanpa ada status pacaran dan jarang untuk saling bertatap muka?
Jawabannya mungkin ada. Ya, salah satunya kamu. Pernyataan kamu via telepon tadi membuat aku yakin akan pertanyaan diatas. Saat kutanya mengapa hal itu bisa terjadi? jawabanmu simple tapi penuh makna menurutku. “Aku ngga punya alasan untuk terus sayang ke kamu” itulah jawabanmu.
Aku akan selalu ingat, perjuangan kamu terhadapku. Semenjak kelas 3 SMP hingga sekarang. Dari mulai aku tidak terlalu menanggapi hingga aku dapat menjadikanmu lelaki nomor satu dihatiku. Entah aku sendiri tak tahu kapan persisnya. Perasaan itu mengalir begitu saja seiring dengan kegigihan kamu. Oya, aku ingat. Mungkin aku mulai menyimpan rasa itu setelah aku mulai kehilangan kamu. Saat itu, kamu berhenti memberi perhatian terhadapku dan setelah aku cari tahu ternyata kamu sudah memiliki kekasih hati. Ya, disaat itu aku mulai sangat merasa kehilangan kamu. Mungkin benar ada suatu kata mutiara dari kahlil gibran yang kira-kira seperti ini “Cinta akan terasa kedalamannya saat perpisahan tiba”. Aku tahu, mungkin kamu merasa lelah terhadapku, terhadap hubungan kita waktu itu yang terlihat begitu semu.
Sekarang, kamu datang kembali ke hidupku. Kamu mau tahu apa perasaanku saat kamu datang lagi? Aku akui, aku senang sekali hingga aku senyum-senyum sendiri meskipun kamu Cuma nge-ping lewat pesan BBM. Rencana Tuhan memang indah. Aku kembali di ‘pertemukan’ denganmu. Dengan kita yang sudah berbeda. Berbeda dalam hal usia, pemikiran, sikap. Namun, masih tetap sama akan perasaan kita masing-masing.
Aku bahagia saat ini, meskipun aku dan kamu dipisahkan oleh jarak dan waktu. Aku berada di Bogor, Kamu berada di Pontianak. Aku sedang menempuh pendidikan D3 Analisis Kimia dan Kamu sedang menjalani pendidikan sebagai pengabdi negara. Tapi aku yakin kita dapat memandang langit yang sama. Langit yang berperan sebagai perantara dan penyampai rinduku padamu.
Pasti kalian bertanya-tanya kok bisa dua orang yang tidak pernah bertemu lagi setelah bertahun-tahun tapi masih menyimpan rasa satu sama lainnya? Aku sendiri tidak pernah bisa memecahkan pertanyaan itu, dia juga tidak bisa. “Kita tidak memiliki alasan untuk rasa sayang yang tulus”.

                                                                                Untuk Kamu yang jauh di seberang pulau sana.
                                                                                Dari Aku yang selalu tersenyum saat ‘bersama’ denganmu.

6/25/2014

sepi

Rintikkan hujan malam ini menemani kesendirianku, namun aku dan hujan tak dapat ber-simbiosis mutualisme. Hujan diluar menjalankan tugasnya dengan baik tanpa bisa menghiburku. Aku didalam hanya sendiri, tanpa suara denting jam apalagi ocehan manusia.

6/05/2014

Dari perempuan yang masih menyimpan hatinya untukmu



Hatiku bergetar masih sama seperti dulu saat pertama kali kau menyentuh hatiku. Pertama kali, lima tahun silam saat itu kita masih anak ingusan yang duduk di bangku kelas 3 SMP, kau menjadi orang pertama yang mampu menggetarkan hatiku. Meskipun, pada saat itu aku dan kamu tak terikat oleh status, entah mengapa aku merasa hatiku telah dimilki olehmu. Sampai pada akhirnya, saat kita sudah mulai usia 17-an, status aku dan kamu pun jelas. Namun, status itu tak bertahan lama hanya dua bulan saja. Kembali hubungan kita menjadi tanpa status, tetapi perhatian kamu masih tetap sama, kamulah orang pertama selama 4 tahun yang mengucapkan ucapan selamat ulang tahun.
Aku tahu saat ini kamu bukan seperti kamu yang dulu, ya karena kamu sudah memiliki seorang yang mengisi hatimu, aku tahu itu bukan aku. Tapi apakah kamu tahu? aku disini, walaupun sudah lama tak berjumpa denganmu, sudah lama tak menjalin komunikasi denganmu, namun hatiku masih tertuju padamu. Sulit rasanya menentang hati ini, meskipun telah kucoba menjalin hubungan dengan pria lain, hatiku ini benar-benar terpaku padamu. Sering aku berperang melawan hati ini, tapi apakah kamu tahu? bukannya aku yang menang tapi justru aku yang sakit menerima semua kenyataan ini.
Kemarin, saat kamu kembali menghubungiku lagi, kamu tahu? hatiku kembali bergetar, getaran yang masih sama seperti dulu. Aku senang bukan main saat itu. Tetapi, aku segera mengendalikan diriku, menghentikan keriangan hatiku. Aku tahu, tak ada maksud yang istimewa dari kamu mengirimkan pesan singkat kepadaku. Tapi kenapa Tuhan? aku seakan mendapatkan kembali secercah harapan itu. Harapan yang sepertinya tak akan kunjung terwujud.

Dari orang yang masih menyimpan hatinya untukmu

5/19/2014

Keputusan, 14 Mei 2014



Saat menulis ini, aku tak bisa menjelaskan apa wacana hatiku. Bahkan untuk membaca novel pun tidak ku pahami isi dari ceritanya, mataku tertuju pada kata demi kata pada novel  karangan Tere-Liye, namun hati dan pikiranku memikirkan dia dan ‘hubungan kita’.
Dia yang selama hampir sembilan bulan ini mengisi hari-hariku (meskipun dalam jarak ratusan kilometer) , mengucapkan selamat pagi dan selamat tidur, menjadi penyemangat keseharianku, menjadi “musuh” dalam kesukaan klub sepak bola (dia suka madrid, dan aku suka barcelona), dia yang selalu menjadi pemerhati nomer satu selain keluargaku.
Satu minggu terakhir ini, semua kemanisan itu seakan berubah,  berawal dari dia tidak mengirimkan pesan singkat satu hari, aku juga melakukan hal sama. Satu hari berikutnya, sama. Tiga, Empat, hingga delapan hari terhitung hari ini, dia tidak kunjung nampak di layar monitor HP ku.  Aku merasa dia sudah berubah. Apa yang salah dengan hubungan ini? Apakah karena ada JARAK yang menghambat kita, termasuk perasaan dan hati kita? Kurasa begitu, karena JARAk intensitas tatap muka kita minim bahkan bisa dibilang sangat minim sekali. Bukankah suatu perasaan sayang tidak hanya lewat tatap muka, justru hati yang seharusnya ‘berbicara’. Sayang? aku tak tahu apa sebenarnya perasaanku padanya, sampai detik ini pun, aku belum mengerti arah hatiku berjalan kemana. Yang jelas, aku bahagia saat menerima perhatian darinya.
Keputusan ini akhirnya yang ku buat, aku enggan lama-lama penasaran dengan dirinya yang entah sedang melakukan apa disana. Keputusan yang benar-benar memerlukan keberanian tingkat tinggi (bagiku), sekedar untuk mengetikkan huruf pada keypad HP seakan ku tak mampu, kalimat demi kalimat yang kurasa sudah cukup tepat kuketik. Inti dari kalimat panjang tersebut yaitu aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini atau istilahnya PUTUS. Secepat inikah hubungan ini berakhir? Namun perasaanku padanya apakah sama juga akan berakhir? Sekali lagi, aku tidak tahu.
Setelah ku kirimkan pesan singkat (menghabiskan 320 karakter sebenarnya), aku menunggu balasan darinya. Satu jam, belum juga dia membalasnya. Mengapa dia ‘senang’ menggantungkan perasaanku? Tak tahu apa, disini aku galau menunggu kalimat yang keluar darinya. Bagaimana jika dia tidak ingin membalasnya? hatiku semakin kacau, bingung, bimbang, gundah gulana, apalah itu istilahnya. Apakah pesanku tidak terkirim? Apakah dia mengganti nomor Handphonenya? Atau Apakah dia sudah menghapus nomorku dari Handphonenya? Atau Apakah dia marah lantas tidak ingin membalasnya? Atau Apakah dia sudah tak mengganggapku lagi selama delapan hari ini?. Kemungkinan-kemungkinan itu belum bisa kupastikan hingga saat ini.  Semoga beberapa menit lagi kemungkinan itu tejawab entah benar atau tidak mengenai dugaan-dugaanku diatas. Hingga aku memposting tulisan ini, tak ada jawaban dari segala tanyaku yang ia jawab. 

Kamu dan Lembaran Baru (4)

 Hari-hariku sekarang dipenuhi dengan kehadiranmu, ada kalanya kita bahagia, ada kalanya kita kecewa. Tak jarang aku kecewa karenamu, begitu...