Selamat malam. Sudah beberapa bulan ini absen nulis di blog, aku merasa aku bukan seperti yang dulu yang bebas mengungkapkan cerita lewat tulisan. Akhir-akhir ini susah sekali mengeluarkan kata-kata yang ada dalam benakku. Mungkin karena aku terlalu sibuk, aku sudah lulus akhir tahun lalu dan sekarang sudah bekerja di perusahaan minuman kesehatan yang terletak di cicurug kabupaten sukabumi, yaitu di PT Djojonegoro C1000. Ada kabar buruk Kawan, aku masih belum bisa melupakan dia, iya dia yang dulu dari SMP selalu memperhatikanku. Aku bahkan tau dia sudah punya pacar lagi, tapi bodohnya aku masih belum bisa melupakan dia, dan apakah kalian tau? Semalem aku bahkan memimpikannya, berada di dekat dia, merasa hal tersebut nyata. Dia sekarang lagi apa ya. Aku ingin sekali memulai obrolan baru dengannya, terapi ketakutanku jauh lebih besar, aku takut diabaikan. Sudahlah, semoga kita bertemu dalam mimpi lagi ya, itu sudah cukup membuatku senang.
Selamat malam untuk kamu yang sudah milik perempuan lain.
Dari aku, perempuan yang masih ingin bertemu kamu.
5/15/2016
9/12/2015
Malam Minggu Kesekian Tanpamu
Selamat malam. Aku tak tahu lagi
ini malam minggu keberapa tanpa sapaan darimu, tanpa pesan singkatmu, tanpa
telepon darimu, tanpa candaan serta gombalan kamu. Aku tak ingat malam minggu
keberapa, namun aku masih ingat dan masih menyimpan rasa ini untukmu. Bagaiamana
denganmu? . Ah tak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya. Memang kita tak
pernah bertemu secara langsung di malam minggu karena jarak memisahkan kita.
Tapi aku sangat senang malam minggu tiba, jadwal kamu menelponku. Menelpon dua
jam denganmu terasa begitu cepat. Kata pertama yang selalu keluar dari mulutmu
saat nelpon yaitu kata “Kangen kamu” lalu aku selalu menjawab “Aku juga kangen
kamu”. Dan sampai saat ini aku masih kangen kamu hai kamu yang berada diluar
kota sana. Kamu selalu mencoba membuat
lelucon dengan kata-katamu, jika aku
yang disebrang sini hanya tertawa sebentar, kamu selalu bilang “hehe nggak lucu
ya?” lalu aku bilang “lucu, lucu kok”. Ya, memang terkadang candaanmu tidak
lucu sih, tapi aku bilang saja lucu untuk menyenangkan hatimu. Toh ngga ada
yang salah karena aku mencintaimu. Selain candaan, kamu selalu merayuku dengan
kata-kata yang sederhana, tidak puitis, namun selalu bisa membuatku tersenyum
malu. Untung saja kita tak bertatap muka, aku malu jika kamu melihat betapa
meronanya pipiku saat kamu melayangkan rayuanmu. Beberapa malam minggu selalu
kuhabiskan denganmu, hingga tiba akhirnya pada saat malam minggu itu kita
berpisah. Alasannya karena jarak. Entah itu hal sepele atau bukan, tapi
menurutku tidak ada hal yang sepele hingga suatu hubungan bisa berakhir.
Mungkin diluar kota sana malam
minggu ini kamu sedang asyik menikmati jalanan kota yang ramai dikelilingi
kerlipan lampu kota, pedagang yang berjejer, makan malam romantis, atau mungkin
sedang berbicara mesra lewat telepon karena dengan pacar kamu yang sekarang
juga kalian LDR. Aku memang perempuan yang bodoh, masih saja memikirkanmu yang
telah membuat malam minggu-malam minggu ku sepi. Aku butuh kamu saat ini, aku
butuh orang yang aku sayang bisa menyemangati sidang komprehensif ku. Aku ingin
kamu mengucapkan selamat ketika aku selesai sidang. Aku ingin kamu datang di
hari wisudaku. Aku ingin itu semua. Maaf aku terlalu lancang, menginginkan
semua itu darimu.
Hanya dengan menulis, aku merasa
kamu masih ada disampingku. Dengan menulis, aku bisa berbicara banyak denganmu.
Dengan menulis, aku bisa memilikimu tanpa banyak larangan. Dengan menulis, aku
masih bisa terus memandangmu, meluapkan rasa rinduku, menganggap seolah
perpisahan ini tak pernah terjadi.
Aku memang bodoh, tolol, norak.
Tapi aku beruntung karena pernah dicintai dengan sederhana olehmu, tanpa pernah
bertemu saat malam minggu. Hanya via telepon, sapaan hangat, perhatian, dan
kata-kata sederhana darimu yang bisa membuatku ingin memperlambat waktu di
malam minggu.
Dari perempuan yang masih mengingat malam minggu denganmu.
Untuk kamu yang sudah menjalani malam minggu dengan perempuan lain.
12/26/2014
Aku Hanya Takut Kamu Bohong
“Jarak ada untuk
ditempuh bukan untuk dikeluh karena jauh”, terasa begitu mudah untuk dikatakan,
namun direalisasikan begitu susah. Mengapa jarak selalu menjadi masalah bagiku.
Bulan bulan awal tak masalah, menuju bulan kelima, jarak seakan menjadi tembok
besar diantara kita. Aku merasa atau mungkin aku saja yang terlalu perasa, ya
aku merasa kamu seperti tak peduli lagi terhadapku, terhadap hubungan ini.
Biasanya, kamu yang selalu memulai percakapan di BBM , selalu menelponku. Tapi kini, harus aku yang terlebih dahulu
mengirimkan PING! via BBM, dari cara kamu membalas pesan BBM pun terasa hambar bagiku, balas
pesan hanya seperlunya, aku bertanya ‘kamu udah makan belum’ kamu hanya
menjawab ‘belum, kamu udah makan’. Selalu seperti itu, aku bertanya, kamu jawab
singkat dan bertanya balik hal yang sama.
Sebenarnya kamu
ingin tahu apa yang aku takutkan? Aku takut kamu membohongiku lagi. Itu saja. Jika itu benar terjadi, aku sudah cukup
mengorbankan perasaanku yang terlalu besar terhadapmu, sampai aku rela
menunggumu kurang lebih lima tahun lamanya, sampai aku rela menjadi orang
diantara kamu dan dia, kurang berkorban apalagi perasaanku? Jika itu benar
terjadi, biarkan perasaanku mencoba menjauh darimu.
Dari aku yang takut kamu bohongi lagi
Untuk kamu yang kurasa
telah berubah
11/30/2014
Aku Rasa Kamu Telah Berubah
Maaf ya jika kalian bosan membaca
ceritaku karena lagi lagi ceritaku menyangkut dirinya.
Malam ini, Minggu, 30 November 2014
pukul 18:39. Perasaanku sedang tak menentu. Aku merasa kamu berubah, 1 minggu
ini kamu tak lagi menelponku hanya saja kita masih ‘bercakap’ lewat pesan
singkat ataupun BBM itu pun seperti
bukan kamu yang biasanya, tak ada tanda perhatian, memulai percakapan pun harus
aku, membalasnya pun singkat saja, tak ada gombalan yang biasanya kamu
lontarkan kepadaku hingga membuatku senyum-senyum sendiri. Aku merasa kamu
berubah. Namun, aku tak tahu alasan itu semua. Ingin sekali aku bertanya
langsung kepadamu, tetapi aku tak berani menanyakannya, aku takut kamu anggap
aku terlalu overprotektif atau overdramatis atau apalah itu istilahnya. Hal
seperti ini persis seperti pada saat bulan lalu saat kamu berbohong padaku
(lihat di cerita sebelumnya). Apakah hal yang sama tersebut akan terjadi lagi?.
Tolong kepada kamu, berkatalah jujur padaku, ceritakanlah apa yang sebenarnya
terjadi, jika kamu memang sudah ‘bosan’ dengan cerita cinta kita maka
katakanlah. Jangan biarkan perasaanku bak kapal yang dalam hantaman ombak yang
terombang-ambing tidak jelas. Atau kemungkinan ini semua hanya aku saja yang
terlalu sensitif akan perasaanku kepadamu, mungkin saja kamu disana sedang
sibuk menjalankan serangkaian kegiatan yang kutahu sangat padat hingga tidak
ada kesempatan untuk sekedar memperhatikanku. Mungkin saja.
Untukmu seseorang yang aku rasa telah berubah
Dari aku yang mungkin terlalu sensitif
10/28/2014
Selasa malam, 28 Oktober 2014 pukul 20:09
Terimakasih...
Malam ini air mataku tumpah saat mengetahui suatu fakta. Aku ingin bertanya kepadamu, Kenapa kamu tega ‘memainkan’ perasaanku? Kamu bilang kamu sayang sama aku, kamu bilang kamu sudah tidak menjalin hubungan dengan seorang perempuan itu. Tapi apa?? Aku lihat di akun facebook mu sebuah tulisan status dia tentangmu, lebih tepatnya tentang kalian. Aku bodoh, kenapa aku langsung percaya kepadamu?? Mustahil kamu masih menyimpan rasa yang dulu pernah kau berikan hanya padaku. Aku hanya terlalu kepedean, terlalu yakin akan rasaku ini terhadapmu, tapi kenyataannya keyakinan perasaanku tak sebanding dengan perasaanmu.
Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas rasa sakit yang telah kauberikan ini. Aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku berusaha akan melupakan kamu, meskipun aku tak tahu kapan aku bisa melakukannya. Kamu berhak bahagia dengannya, bukan denganku yang terlalu rapuh saat menerima kenyataan ini. Terimakasih sudah mengijinkanku untuk ‘memiliki’ hatimu meskipun itu fana. Terimakasih sudah membuat hari-hariku diiringi senyum akhir-akhir ini. Terimakasih atas rayuan-rayuan kamu meskipun itu hanya terucap lewat mulutmu bukan dari hatimu. Terimakasih sudah membuat aku merasa menjadi perempuan yang paling bahagia. Terimakasih karena kamu berhasil menjadi inspirasi dalam khayalanku. Terimakasih atas harapan yang sempat kamu berikan kepadaku. Terimakasih atas obrolan dan candaan hangat yang kamu lontarkan lewat telepon. Terimakasih atas perhatian kamu. Sekali lagi terimakasih dan semoga kamu benar-benar menemukan kebahagiaanmu.
Dari aku, perempuan yang terlalu berharap lebih akan perasaanmu.
Untuk kamu, lelaki yang membuat air mataku tumpah malam ini.
Terimakasih...
Malam ini air mataku tumpah saat mengetahui suatu fakta. Aku ingin bertanya kepadamu, Kenapa kamu tega ‘memainkan’ perasaanku? Kamu bilang kamu sayang sama aku, kamu bilang kamu sudah tidak menjalin hubungan dengan seorang perempuan itu. Tapi apa?? Aku lihat di akun facebook mu sebuah tulisan status dia tentangmu, lebih tepatnya tentang kalian. Aku bodoh, kenapa aku langsung percaya kepadamu?? Mustahil kamu masih menyimpan rasa yang dulu pernah kau berikan hanya padaku. Aku hanya terlalu kepedean, terlalu yakin akan rasaku ini terhadapmu, tapi kenyataannya keyakinan perasaanku tak sebanding dengan perasaanmu.
Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas rasa sakit yang telah kauberikan ini. Aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku berusaha akan melupakan kamu, meskipun aku tak tahu kapan aku bisa melakukannya. Kamu berhak bahagia dengannya, bukan denganku yang terlalu rapuh saat menerima kenyataan ini. Terimakasih sudah mengijinkanku untuk ‘memiliki’ hatimu meskipun itu fana. Terimakasih sudah membuat hari-hariku diiringi senyum akhir-akhir ini. Terimakasih atas rayuan-rayuan kamu meskipun itu hanya terucap lewat mulutmu bukan dari hatimu. Terimakasih sudah membuat aku merasa menjadi perempuan yang paling bahagia. Terimakasih karena kamu berhasil menjadi inspirasi dalam khayalanku. Terimakasih atas harapan yang sempat kamu berikan kepadaku. Terimakasih atas obrolan dan candaan hangat yang kamu lontarkan lewat telepon. Terimakasih atas perhatian kamu. Sekali lagi terimakasih dan semoga kamu benar-benar menemukan kebahagiaanmu.
Dari aku, perempuan yang terlalu berharap lebih akan perasaanmu.
Untuk kamu, lelaki yang membuat air mataku tumpah malam ini.
10/02/2014
Tentang Aku dan Kamu
Apa mungkin ya rasa sayang dapat
bertahan selama lebih dari 5 tahun tapi tanpa ada status pacaran dan jarang
untuk saling bertatap muka?
Jawabannya mungkin ada. Ya, salah
satunya kamu. Pernyataan kamu via telepon tadi membuat aku yakin akan
pertanyaan diatas. Saat kutanya mengapa hal itu bisa terjadi? jawabanmu simple tapi penuh makna menurutku. “Aku
ngga punya alasan untuk terus sayang ke kamu” itulah jawabanmu.
Aku akan selalu ingat, perjuangan
kamu terhadapku. Semenjak kelas 3 SMP hingga sekarang. Dari mulai aku tidak
terlalu menanggapi hingga aku dapat menjadikanmu lelaki nomor satu dihatiku.
Entah aku sendiri tak tahu kapan persisnya. Perasaan itu mengalir begitu saja
seiring dengan kegigihan kamu. Oya, aku ingat. Mungkin aku mulai menyimpan rasa
itu setelah aku mulai kehilangan kamu. Saat itu, kamu berhenti memberi
perhatian terhadapku dan setelah aku cari tahu ternyata kamu sudah memiliki
kekasih hati. Ya, disaat itu aku mulai sangat merasa kehilangan kamu. Mungkin
benar ada suatu kata mutiara dari kahlil gibran yang kira-kira seperti ini
“Cinta akan terasa kedalamannya saat perpisahan tiba”. Aku tahu, mungkin kamu
merasa lelah terhadapku, terhadap hubungan kita waktu itu yang terlihat begitu
semu.
Sekarang, kamu datang kembali ke
hidupku. Kamu mau tahu apa perasaanku saat kamu datang lagi? Aku akui, aku
senang sekali hingga aku senyum-senyum sendiri meskipun kamu Cuma nge-ping lewat pesan BBM. Rencana Tuhan memang indah. Aku kembali di ‘pertemukan’
denganmu. Dengan kita yang sudah berbeda. Berbeda dalam hal usia, pemikiran,
sikap. Namun, masih tetap sama akan perasaan kita masing-masing.
Aku bahagia saat ini, meskipun
aku dan kamu dipisahkan oleh jarak dan waktu. Aku berada di Bogor, Kamu berada
di Pontianak. Aku sedang menempuh pendidikan D3 Analisis Kimia dan Kamu sedang
menjalani pendidikan sebagai pengabdi negara. Tapi aku yakin kita dapat
memandang langit yang sama. Langit yang berperan sebagai perantara dan
penyampai rinduku padamu.
Pasti kalian bertanya-tanya kok
bisa dua orang yang tidak pernah bertemu lagi setelah bertahun-tahun tapi masih
menyimpan rasa satu sama lainnya? Aku sendiri tidak pernah bisa memecahkan
pertanyaan itu, dia juga tidak bisa. “Kita tidak memiliki alasan untuk rasa
sayang yang tulus”.
Untuk
Kamu yang jauh di seberang pulau sana.
Dari
Aku yang selalu tersenyum saat ‘bersama’ denganmu.
6/25/2014
sepi
Rintikkan hujan malam ini menemani kesendirianku, namun aku dan hujan tak dapat ber-simbiosis mutualisme. Hujan diluar menjalankan tugasnya dengan baik tanpa bisa menghiburku. Aku didalam hanya sendiri, tanpa suara denting jam apalagi ocehan manusia.
6/05/2014
Dari perempuan yang masih menyimpan hatinya untukmu
Hatiku bergetar
masih sama seperti dulu saat pertama kali kau menyentuh hatiku. Pertama kali,
lima tahun silam saat itu kita masih anak ingusan yang duduk di bangku kelas 3
SMP, kau menjadi orang pertama yang mampu menggetarkan hatiku. Meskipun, pada
saat itu aku dan kamu tak terikat oleh status, entah mengapa aku merasa hatiku
telah dimilki olehmu. Sampai pada akhirnya, saat kita sudah mulai usia 17-an,
status aku dan kamu pun jelas. Namun, status itu tak bertahan lama hanya dua
bulan saja. Kembali hubungan kita menjadi tanpa status, tetapi perhatian kamu
masih tetap sama, kamulah orang pertama selama 4 tahun yang mengucapkan ucapan
selamat ulang tahun.
Aku tahu saat
ini kamu bukan seperti kamu yang dulu, ya karena kamu sudah memiliki seorang
yang mengisi hatimu, aku tahu itu bukan aku. Tapi apakah kamu tahu? aku disini,
walaupun sudah lama tak berjumpa denganmu, sudah lama tak menjalin komunikasi
denganmu, namun hatiku masih tertuju padamu. Sulit rasanya menentang hati ini,
meskipun telah kucoba menjalin hubungan dengan pria lain, hatiku ini
benar-benar terpaku padamu. Sering aku berperang melawan hati ini, tapi apakah
kamu tahu? bukannya aku yang menang tapi justru aku yang sakit menerima semua
kenyataan ini.
Kemarin, saat
kamu kembali menghubungiku lagi, kamu tahu? hatiku kembali bergetar, getaran
yang masih sama seperti dulu. Aku senang bukan main saat itu. Tetapi, aku
segera mengendalikan diriku, menghentikan keriangan hatiku. Aku tahu, tak ada
maksud yang istimewa dari kamu mengirimkan pesan singkat kepadaku. Tapi kenapa
Tuhan? aku seakan mendapatkan kembali secercah harapan itu. Harapan yang
sepertinya tak akan kunjung terwujud.
Dari orang yang masih menyimpan
hatinya untukmu
5/19/2014
Keputusan, 14 Mei 2014
Saat menulis
ini, aku tak bisa menjelaskan apa wacana hatiku. Bahkan untuk membaca novel pun
tidak ku pahami isi dari ceritanya, mataku tertuju pada kata demi kata pada
novel karangan Tere-Liye, namun hati dan pikiranku memikirkan dia dan ‘hubungan kita’.
Dia yang selama hampir sembilan bulan
ini mengisi hari-hariku (meskipun dalam jarak ratusan kilometer) , mengucapkan
selamat pagi dan selamat tidur, menjadi penyemangat keseharianku, menjadi
“musuh” dalam kesukaan klub sepak bola (dia
suka madrid, dan aku suka barcelona), dia
yang selalu menjadi pemerhati nomer satu selain keluargaku.
Satu minggu
terakhir ini, semua kemanisan itu seakan berubah, berawal dari dia tidak mengirimkan pesan singkat satu hari, aku juga melakukan
hal sama. Satu hari berikutnya, sama. Tiga, Empat, hingga delapan hari
terhitung hari ini, dia tidak kunjung nampak di layar monitor HP ku. Aku merasa dia
sudah berubah. Apa yang salah dengan hubungan ini? Apakah karena ada JARAK yang
menghambat kita, termasuk perasaan
dan hati kita? Kurasa begitu, karena JARAk intensitas tatap muka kita minim
bahkan bisa dibilang sangat minim sekali.
Bukankah suatu perasaan sayang tidak
hanya lewat tatap muka, justru hati yang seharusnya ‘berbicara’. Sayang?
aku tak tahu apa sebenarnya perasaanku padanya, sampai detik ini pun, aku belum
mengerti arah hatiku berjalan kemana. Yang jelas, aku bahagia saat menerima
perhatian darinya.
Keputusan ini
akhirnya yang ku buat, aku enggan lama-lama penasaran dengan dirinya yang entah sedang melakukan apa
disana. Keputusan yang benar-benar memerlukan keberanian tingkat tinggi
(bagiku), sekedar untuk mengetikkan huruf pada keypad HP seakan ku tak
mampu, kalimat demi kalimat yang kurasa sudah cukup tepat kuketik. Inti dari
kalimat panjang tersebut yaitu aku ingin
hubungan kita berakhir sampai disini atau istilahnya PUTUS. Secepat inikah
hubungan ini berakhir? Namun perasaanku padanya apakah sama juga akan berakhir?
Sekali lagi, aku tidak tahu.
Setelah ku
kirimkan pesan singkat (menghabiskan 320 karakter sebenarnya), aku menunggu
balasan darinya. Satu jam, belum juga dia membalasnya. Mengapa dia ‘senang’ menggantungkan perasaanku?
Tak tahu apa, disini aku galau menunggu
kalimat yang keluar darinya. Bagaimana jika dia
tidak ingin membalasnya? hatiku semakin kacau, bingung, bimbang, gundah
gulana, apalah itu istilahnya. Apakah pesanku tidak terkirim? Apakah dia mengganti nomor Handphonenya? Atau Apakah dia
sudah menghapus nomorku dari Handphonenya?
Atau Apakah dia marah lantas tidak
ingin membalasnya? Atau Apakah dia sudah
tak mengganggapku lagi selama delapan hari ini?. Kemungkinan-kemungkinan itu
belum bisa kupastikan hingga saat ini. Semoga beberapa menit lagi kemungkinan itu
tejawab entah benar atau tidak mengenai dugaan-dugaanku diatas. Hingga aku memposting tulisan ini, tak ada jawaban
dari segala tanyaku yang ia jawab.
4/12/2014
Kamis, 3 April 2014
Aku belajar apa itu arti
keikhlasan. Hari itu, pagi yang indah seperti hari-hari biasanya aku lewati.
Berangkat ke kampus dengan riang hati karena memang hari kamis jadwal kuliah
hanya sampai pukul 2. Selain itu, rencana memberi kado ulang tahun bersama Belinda
dan Deflo untuk sahabat kami, Marissa. Siang hari, kabar baik lagi-lagi datang,
aku dan teman-teman Marissa lain diajak ke Botani Square untuk makan-makan,
sebagai perayaan hari ulang tahun marissa. Kami berdelapan (aku, marissa,
deflo, nurul, intan, erin, inggi, ayu) berangkat menuju Botani Square sekitar
pukul 3. Berangkat dengan candaan khas kami. Tawa, senyum,bahagia tersirat dari
sudut wajah kami. Sesampainya di pemberhentian angkot, hujan tiba-tiba turun
dengan derasnya. Terpaksa, kami menerobos hujan meskipun satu payung kecil
terdiri dari 3 orang, hanya nurul dengan intan yang berdua. Tepat anak tangga
terakhir di jembatan penyebrangan, HP ku bergetar, Mama yang menelponku.
Sesegera mungkin aku angkat, Fix aku
langsung lemas ketika mama diseberang telepon
berbicara jika Baput (Kakek aku) meninggal. Mama menyuruhku segera
pulang ke rumah (di cibinong), namun aku putuskan untuk sholat ashar terlebih
dahulu. Teman-temanku yang sedang jalan seketika berhenti melihat raut wajahku
sedih. Setelah aku katakan siapa yang menelpon dan apa yang dikatakan si
penelpon, mereka ikut berduka cita dan terus menyemangatiku agar tetap kuat.
Setelah sholat ashar, kami pergi ke tempat makan Pizza Hut, sebenarnya aku bingung antara ingin pulang tapi aku
tidak ingin menghancurkan acara teman-temanku ini. Mama kembali menelpon, kali
ini nada bicaranya lebih keras dibandingkan sebelumnya. Aku dengan
tergesa-gesanya pamit ke teman-teman dan menuju keluar dari mall. Dengan langkah gontai aku berjalan
cepat, menerobos sekurumunan orang, menaiki dan menuruni jembatan penyebrangan
yang licin bekas hujan deras tadi. Miniarta (seperti minibus) datang, aku
segera naik kendaraan yang sebenarnya kurang layak lagi untuk digunakan. Baru
ada satu penumpang didalam, aku duduk. Aku merogoh kantong tas sisi depan, ada
yang aneh kantong tas sisi depan itu terbuka, ah mungkin aku tadi lupa
menutupnya setelah menerima telepon dari mama. Kucoba menemukan HP ku didalam
kantong tas tersebut, tanganku tak juga menemukannya. Aku mencoba mencari di
kantong lain di setiap bagian tas, hasilnya tetap nihil. Disitu, aku sempat
terdiam beberapa detik. Kemudian aku segera turun kembali dari miniarta itu
menuju tangga dan jalan menuju mall tadi,
mencari sebuah HP nokia C1, memang tidak sebagus HP yang akhir-akhir ini laku
di pasaran. Aku kembali menuju miniarta dan tak terasa air mataku sudah jatuh
di pipiku. Aku menangis Kawan. Dihari yang sama dan dalam waktu yang sangat
berdekatan, aku kehilangan dua hal yang paling berharga dalam hidup aku.
Pertama, kehilangan sosok kakek untuk selama-lamanya. Kedua, kehilangan HP
kesayangan yang sudah menemani hari-hariku selama hampir tiga tahun. Disaat itu juga, aku bertanya inikah arti
keikhlasan yang banyak dikatakan orang??? Aku belajar untuk mengikhlaskan hal
yang aku cintai untuk “pergi”. Sesuatu hal didunia ini pasti akan “pergi”
karena semua yang kita punya bukan seutuhnya milik kita, Allah lah mutlak
memiliki semua hal yang ada di dunia ini.
3/21/2014
21 maret 2014
Hari ini, 21 Maret 2014. 20 tahun yang lalu aku terlahir di dunia yang fana ini. Hah 20 tahun??? iya 20 tahun, engga usa kaget gitu. Aku pun antara sadar tidak sadar akan usiaku yang telah menginjak "kepala 2" ini. Sadarnya memang menurut perhitungan matematika jika 2014-1994=20. Tidak sadarnya berasa masih umur 17an, ya dari sikap, gaya berpakaian masi terlihat seperti Anak SMA, oya wajah aku pun masi imut seperti anak 17-an looh (katanya).
Dua puluh tahun sepertinya menjadi angka awal menuju yang namanya jadi orang dewasa, dewasa dalam bersikap,berpikir,berkomitmen,berprinsip, dan tau arah yang akan dilakukan esok hari. Di usia 20 tahun ini semoga semakin dewasa, engga cengeng, engga sering galau, bisa memberikan aura positif bagi orang-orang disekitarku, pokoknya menjadi wanita yang berkualitas.amiin. Dan mimpi-mimpi yang kutuliskan dalam selembar kertas dapat terwujud, termasuk bisa menginjakkan kaki di kota paris. amiin ya Allah.
Dua puluh tahun sepertinya menjadi angka awal menuju yang namanya jadi orang dewasa, dewasa dalam bersikap,berpikir,berkomitmen,berprinsip, dan tau arah yang akan dilakukan esok hari. Di usia 20 tahun ini semoga semakin dewasa, engga cengeng, engga sering galau, bisa memberikan aura positif bagi orang-orang disekitarku, pokoknya menjadi wanita yang berkualitas.amiin. Dan mimpi-mimpi yang kutuliskan dalam selembar kertas dapat terwujud, termasuk bisa menginjakkan kaki di kota paris. amiin ya Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Kamu dan Lembaran Baru (4)
Hari-hariku sekarang dipenuhi dengan kehadiranmu, ada kalanya kita bahagia, ada kalanya kita kecewa. Tak jarang aku kecewa karenamu, begitu...
-
TUGAS KIMIA F...
-
Pertama kali mendengar dari seorang Dosen kuliah. Ada rasa ngga percaya kalo minyak tanah bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Beli...